Tentang "Membangun Privilege" untuk Melanjutkan Sekolah S2 di Luar Negeri

Setelah sekian lama hiatus dari dunia blog, saya kembali mengguratkan kisah pengalaman pribadi di usia 27 tahun dengan menyandang status “pelajar”. Sayangnya perjalanan meraih mimpi S2 di luar negeri bukan hal mudah bagi saya yang berasal dari keluarga menengah-kebawah. Dibutuhkan banyak pengorbanan dan bahkan perjuangan ekstra untuk meraihnya, karena semua itu tidak instan dan butuh biaya. Satu hal yang pasti, jika kita tidak terlahir dengan privilege, kita tetap bisa membangun privilege kita sendiri. Semoga sepenggal cerita saya ini bisa memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan “Membangun privilege”. 


Berawal dari mimpi yang tidak terkubur, tapi selalu saya sematkan. 


Saya hidup dan besar di sebuah kota kecil dengan keluarga besar yg rata-rata hanya lululan SMA. Kebetulan orang tua saya berkesempatan untuk merasakan bangku kuliah meskipun hanya D3. Ini alasan mereka tidak pernah menaruh ekspektasi terlalu tinggi terhadap anaknya. Meskipun percaya pendidikan sangat penting, tetapi untuk anaknya bisa lulus SMA dan bisa cari uang sendiri sudah syukur rasanya. 


Saat itu saya berada di bangku kelas X saat pertama kali menyematkan mimpi sekolah S2 di luar negeri. Awal mula mimpi itu muncul karena saya aktif di kegiatan PMR sampai mewakili provinsi di tingkat nasional. Disana mata saya terbuka dengan kisah Henry Dunant dan Florence Nightingale yg darisitu pula saya diperkenalkan konsep Humanitarianisme dalam Kepalangmerahan. Saya mulai menyematkan keinginan terdalam, pokoknya saya mau sekolah setinggi mungkin sampai ke luar negeri!


Sejak saat itu saya memantapkan ingin melanjutkan studi Hubungan Internasional. Sayangnya yg paling memungkinkan hanya HI UGM karena Eyang saya orang Jogja, dan menimbang faktor cost and benefit, hemat ongkos kalau bisa tinggal bersama Eyang. Seperti tidak ada opsi, saya dihadapkan kenyataan kalau tidak di Jogja ya tidak kuliah. Kalau tidak di sekolah negeri, jangan harap bisa lanjut sekolah di swasta. Namun syukur alhamdulillah saya diterima, dan mendaftarkan beasiswa kampus, meskipun tidak full-cover tapi sangat membantu meringankan beban biaya. 





Sadari bahwa privilege bisa dibangun, meskipun tidak mudah.


Mungkin masa kuliah adalah awal saya membangun privilege. Meskipun saya tidak berasal dari keluarga kaya, saya dipertemukan dengan teman, dosen dan lingkungan yg sangat memotivasi saya untuk berkembang. Saya sangat menyadari diantara banyak teman di jurusan, bahasa inggris saya blm advance betul yg artinya mimpi saya sekolah sampai luar negeri akan terkendala. Problematika ini “memaksa saya” untuk membangun privilege saya sendiri. 


Menganut kepercayaan sambil meyelam minum air, saya belajar bahasa inggris dengan ikut banyak kegiatan yg berbau “internasional”, jadi panitia event internasional, ikut organisasi yg berisikan teman2 exchange dr luar negeri, part-time di pusat studi internasional, sampai pekerjaan jadi Liason Officer untuk peserta2 konferensi dari luar negeri, dan masih banyak pekerjaan sampingan lainnya. Saya sadar saya memiliki keterbatasan biaya untuk bisa les bahasa asing, jadi dripada mengeluh, saya cari jalan pintas berkegiatan yg menghasilkan uang tambahan dan juga ikut mengasah skill saya. 


3.5 tahun berlalu dan saya berhasil lulus predikat cumlaude namun sekaligus menyandang status Sandwich Generation. Saya menganggap masa kuliah, part-time dan semua kegiatan2 yg saya jalani tadi adalah belajar sambil bermain, dan saya sangat menikmatinya. Namun mimpi untuk melanjutkan sekolah S2 tidak bisa langsung saya capai. Saya menyadari banyak biaya, waktu dan tenaga untuk mempersiapkannya. Disaat yg sama, orang tua saya pensiun sedangkan adik saya masih sekolah dan akan melanjutkan kuliah. Dihadapkan lagi-lagi dengan situasi, saya memilih menggantungkan mimpi sementara dan memutuskan fokus bekerja, cari uang!




Tidak perlu malu jika dianggap tertinggal, semua orang punya fasenya. Lakukan yg terbaik untuk apapun!


Lagi-lagi dengan prinsip bekerja sambil belajar, saya memutuskan masuk ke perusahaan multinational, dengan harapan terekspos lingkungan yg diverse, berpikiran terbuka termasuk bekerja dengan kolega dari luar negeri. Alhamdulillah tanpa gap waktu, setelah lulus masuklah saya ke GroupM lewat jalur Media Master batch 9. Fase bekerja pasca lulus kuliah ini kemudian membangun privilege saya selanjutnya. 


Tanpa disadari mimpi sekolah S2 di luar negeri yang tertunda mengarahkan saya untuk selalu memilih tantangan yang lebih sulit. Saat probation saya diwanti-wanti, ingin handle klien besar atau kecil? Kalau bisa perform selama probation, saya akan ditempatkan ke klien besar, tetapi resikonya saya dituntut cepat belajar, lembur makanan sehari-hari tetapi sekaligus jadi tempat terbaik untuk membangun karir. Saat itu saya berfikir, sudah susah sampai sini, kalau nggak milih yang susah buat apa? Lagipula klien besar ini bisa diibilang menuntut saya berbahasa inggris 80%. Saya merasa masih punya banyak kekurangan, jadi kalau dapat klien ini, peluang saya berkembang menjadi lebih besar begitupula dengan exposure lingkungan internasionalnya. 


Long story short, ditempatkanlah saya pada klien besar ini. Pada awalnya saya tertatih, merasa jauh tertinggal. Tapi saya yakin, ini adalah proses untuk saya terus berkembang. Dalam maktu 1 tahun saya mencoba beradaptasi, mulai memahami dan terbangun kembali kepercayaan diri saya. Satu lagi privilege yang terbangun selama saya bekerja disini. Saya dipertemukan dengen kolega-kolega dan klien berwawasan luas, membuat saya ingin terus belajar dan menjadikan mimpi saya terlihat sangat nyata didepan mata untuk dijangkau. 








Membangun privilege perlu waktu yang panjang, semangat terus maju dan keberanian memilih.


Meskipun karir di perusahaan pertama bisa dibilang baik, saya terus mengingat mimpi saya melanjutkan sekolah ke luar negeri. Karena tuntutan kerja yg tinggi, sangat sedikit waktu saya untuk mempersiapkan sekolah S2, belum lagi soal kendala biaya2 persiapan yg harus saya prioritaskan. Di usia 25 tahun saat itu, saya memutuskan pindah bekerja ke perusahaan yang memberikan benefit lebih dari segi materi dan waktu.


Di perusahaan baru, saya nego untuk pulang tepat waktu, mengesampingkan lembur karena saya fokus memperdalam kemampuan bahasa lewat kursus. Saya menyadari kekurangan saya yg meskipun hampir setiap hari menggunakan bahasa inggris, beberapa aspek masih banyak yang harus ditingkatkan untuk penggunaan akademik. Pada saat itu saya kursus di English First dari level Intermediate sampai ke advance dalam kurun maktu satu tahun. Selama satu tahun tersebut, saya memanfaatkan setiap weekend dari pagi hingga sore di EF Kuningan City, dan ketika hari kerja dari pulang kantor jam 6 malam sampai jam 9 malam. 


Seperti mimpi yang mengarahkan jalan saya, English First menjadi tempat saya membangun privilege selanjutnya. Saking seringnya saya kesana bak penghuni EF Kuningan City, saya kenal baik dengan pengajar dan murid-murid disitu. Kami bertukar cerita tentang mimpii kami dan apa yg ingin kami capai bahkan ikut kegiatan diluar bersama. Berada di lingkungan yang memotivasi untuk lebih maju membuat saya lagi-lagi sangat bersyukur. 


Perusahaan kedua saya juga memiliki kultur kerja kekeluargaan dengan kolega-kolega yg suportif, membuat saya banyak menyadari soal work live balance. Disini pula saya punya waktu sambil mempersiapkan sekolah juga nyambi persiapan pernikahan. 






Gagal itu wajar, yang tidak boleh adalah menyerah.


Sesaat setelah menikah, tibalah pengumuman sekolah dimana saya gagal secure slot di sekolah tujuan saya. Saat itu hati saya remuk, mimpi yang selama ini saya gantungkan seolah jatuh. Tapi disinilah kemudian lagi-lagi saya dikuatkan oleh orang-orang terdekat yaitu suami dan keluarga. Mereka semua mendukung saya sepenuh hati, mareka semua mengetahui perjuangan saya selama 3.5 tahun ini bekerja sambil persiapan bahasa, IELTS dan test lainnya. Bukan hal mudah untuk memfokuskan pendaftaran ditengah jadwal bekerja di perusahaan swasta dengan load yg relatif tinggi.


Perlu waktu 6 bulan sampai saya healing dan memutuskan mencoba lagi ! 

Saya memutuskan resign dari kantor, dan berusaha benar-benar fokus untuk kesempatan kedua yg Allah berikan. Lagi-lagi, bisa dibilang saya mempunyai privilege karena suami saya mendukung keputusan saya untuk rehat sementara dari bekerja. Sembari memberi waktu saya kembali dalam kewarasan, saya memutuskan untuk hengkang dari Jakarta dan tinggal di kampung halaman.


Disana saya banyak belajar hal lain soal hidup sederhana, bersyukur, dan memprioritaskan keluarga dalam hidup. Saya baru menyadari orang tua saya sudah sangat tua, tapi tidak dengan dukungan mereka yg setiap hari mendoakan saya selama berjuang secure sekolah S2. Saya seperti mendapatkan semangat yg legit, yang membedakan saya sewaktu berusaha sambil bekerja pada tahun sebelumnya. Corona dan berada dekat dengan keluarga memberikan saya kesempatan menghabiskan waktu berharga bersama orang tua, yg bahkan jarang saya lakukan semenjak kuliah dan bekerja.


Kesempatan kedua yang Allah berikan alhamdulillah membuahkan hasil yang tidak menghianati usaha. Kesempatan ini pun tidak akan saya dapat tanpa dukungan suami yg setiap hari selalu memotivasi, orang tua yg selalu mendoakan bahkan sholat ketika saya lagi test IELTS, rekomendasi dari dosen pembimbing saya, Ibu Siti Daulah, dosen saya Mas Randy, klien saya Aldrich Gopal, dan Atasan saya Mbak Isna dan teman-teman ataupun kolega yang selalu memotivasi saya terus belajar dan berjuang. Mereka semua mendukung saya, yang tanpa disadari hadir dalam perjalanan saya membangun privilege saya sendiri untuk meraih mimpi sekolah S2 di luar negeri. Semoga mimpi ini adalah awal dari lembaran baru untuk mencapai hal-hal lainnya :) 



Pada akhirnya, privilege bukan hanya soal materi dan status sosial, tapi juga dukungan orang terdekat, kolega, network dll. Ketika kita tidak memilikinya karena tidak terlahir dengan privilege melekat, maka percayalah setiap dari kita bisa membangunnya sendiri lewat keinginan dan usaha. Jalannya memang panjang dan penuh lika-liku, tetapi bukan berarti tidak mungkin. 

————————————————————————End————————————————————————————





Komentar

Postingan Populer