My Wedding Story - Part 1 - He's the One
Alhamdulillah bersyukur banget selama 2 hari ngurus segala tetek bengek pernikahan di Jogja, diberikan kelancaran.
Meskipun sempat ada drama dengan beberapa vendor, tapi akhirnya diberikan solusi, dan dipertemukan orang-orang baik yang supportif.
As a background, aku tidak menggunakan jasa WO dalam pernikahanku ini. Aku pikir konsepnya sederhana, untuk akad dan resepsi dengan tamu tak lebih dari 150. Hanya keluarga dan teman dekat yg hadir. Maka tak perlulah selama masa persiapannya menggunakan jasa WO.
Namun ternyata tak semudah yang ada di perencanaan. Untuk tektokan dengan berbagai macam vendor punya tantangan tersendiri. Ada yg satu frekuensi, ada yg loadingnya lama, dst. Macem-macem !
Plus, aku mengurus segala hal dari Jakarta, dimana berbagai vendor adalah di Jogja (karena murah kualitas oke, dan emang mudah aksesnya untuk Hari H di Jogja). Thanks God, pasanganku yang sekarang posisinya di Singapura sungguh sangat kooperatif untuk support persiapan. Jadi literally, aku dan pasangan merancang setiap detail nya berdua. Lewat Whatsapp chat, call dan video call. Subhanallah, terimakasih juga internet dan kemajuan teknologi !
Nah ! Mengingat kondisi kita yang LDR ini, kita memutuskan untuk bertemu berbagai vendor di Jogja M-1 untuk koordinasi dan bertemu segala vendor. Kita sudah rancang konsep acara dan akan share ke berbagai vendor.
Namun waktunya cukup packed, aku hanya punya waktu 2 hari untuk koordinasi dengan pihak hotel, koki, dekorasi, musik, gaun dan seserahan (karena gaada jatah cuti). 2 hari waktuku di Jogja diluar dari urusan KUA. Lagi-lagi, pasanganku sungguh supportif, dia dengan segala upaya mengusahakan berada di Jogja sampai urusan KUA selesai (sekitar 4 hari). Alhamdulillah juga Tuhan memberikan kelancaran dan kemudahan karena dia bisa bekerja remote.
Dari pengalaman selama 2 hari packed ini, aku mendapat benang merah yg bisa kuceritakan.
Momen krusial bersama pasangan
Kamu gak akan berubah jadi bridezilla kalau calon suami kamu super sabar dan supportif. Benar kata orang, masa interim persiapan pernikahan bisa jadi masa paling efektif memproyeksikan hubungan kamu dengan calon pasangan. Kenapa ? Karena selama masa persiapan ini, andil kamu dan pasangan sangat besar untuk kompromi dan berdikusi untuk mencapai solusi.
Jujur aja, permasalahan persiapan pernikahan akan sangat banyak muncul. Kebanyakan justru masalah2 kecil yang kalau dipikir adalah awal dari ujian calon pasangan pengantin. Kalau kalian meant to be together, niscaya selama persiapan gak akan berubah jadi bridezilla atau groomzilla.
Kadang kalau dipikir, masalah nya bisa super nggak penting, BUT it's matter a lot yg bisa berdampak ke keyakinan kamu, is he/she the one ?
Contoh simple nih, at one moment, masing2 dari kami mengalami syndrome kekhawatiran besar soal bagaimana jadinya pernikahan kami. Ciri-cirinya susah tidur, kalau tidur mimpinyaa soal perniakhan, diajak ngobrol soal pernikahan cepat cranky, diajak ngbrol lain bawaannya emosi. Maklum kita gapakai WO.
Di titik puncaknya, bisa jadi salah satu dari kami akan bergumam "kenapa sih semuanya harus aku ?" Atau "apa sih kontribusi kamu? Ada gak sih waktu buat ikut mikirin juga?". Kalau gak ditangani, bisa jadi ambyar, mengucurlah air mata.
Ooo ow ! Red flag! mostly permasalahan gini akan terjadi. Tapi tenang, fase ini adalah sangat wajar. Setelah terlewati dengan saling support, kami pun berfikir. Semua harus dijalani pelan-pelan, kalau nemu masalah jangan dipendam, tapi sharing. Intinya jangan merasa sendiri. Dan ingat ! Apa yg kita persiapkan adalah dari kita dengan semaksimal mungkin yg bisa kita provide, jadi harus siap dengan segala komentar, kalau perlu bodo amat sama orang-orang nyinyir (mereka juga ga biayain nikahan kita anyway).
Contoh lainnya. Disaat terdesak waktu tapi masih banyak hal ini itu yg diurus, support pasangan sangat krusial.
Di suatu momen ketika mau antar barang untuk dihias seserahan. Ternyata lokasinya di Bantul, which is super jauh dari Pakualaman. Posisinya kami berdua tau kalau kita udah di titik CAPEK BANGET, tapi GAK ADA WAKTU melainkan HARUS SEKARANG. Ohwkay, tetep dong kita cus, tapi saling menguatkan. no crankcy club, cause we know both of us supporting each other.
Di poin ini, I know he's the one dan makin yakin. Bisa kebayang kan kalau salah satunya lepas tanggung jawab, yg ada bisa jadi perang besar. Padahal, semua berawal dari hal kecil.
-to be continued-


Komentar
Posting Komentar